Harusnya Horror muncul sebagai film debut penyutradaraan Reza “Arap” Oktovian yang menggabungkan unsur komedi dan horor dengan nuansa emosional. Film ini menonjol karena balutan lelucon yang absurd namun tetap mampu meraih kedalaman perasaan, khususnya di bagian akhir yang membuat banyak penonton terbawa haru.

Selain menyuguhkan humor dan suasana mencekam, Harusnya Horror juga menyinggung fenomena content creator dan budaya pencarian konten viral. Tema persahabatan, pengkhianatan, memaafkan, dan pengorbanan menjadi inti cerita yang memberi film ini rasa dan “hati” di balik absurditasnya.
Harusnya Horror: Debut Reza “Arap” dan Nuansa Film
Sebagai debut layar lebar, Reza “Arap” Oktovian membawakan film dengan sentuhan personal dan pendekatan yang ringan namun bermakna. Ia memilih format komedi-horor untuk mempermudah penyampaian kritik sosial secara satir, sambil tetap menjaga unsur emosional cerita. Reza menjelaskan bahwa, di balik kemasan yang terkesan jenaka, film ini bermaksud mengangkat nilai persahabatan dan pentingnya menghargai orang terdekat sebelum terlambat.
Persahabatan, Pengorbanan, dan Akhir yang Menggugah
Rangka cerita menempatkan loyalitas dan dinamika antar-sahabat sebagai benang merah. Penonton diajak mengikuti perjalanan kelompok yang mengalami saling bantu, pengkhianatan, hingga momen memaafkan dan berkorban. Banyak penonton yang merasa sangat emosional pada bagian akhir; adegan penutup disebut-sebut mampu menggugah hingga menitikkan air mata karena kedalaman konflik batin dan ikatan antar-karakter.
Satir Creator Economy dalam Balutan Komedi-Horor
Salah satu nilai pembeda Harusnya Horror adalah penyisipan isu content creator. Film ini memotret aspek creator economy yang kerap mengorbankan keaslian demi mengejar konten viral dan keuntungan. Dengan pendekatan satir, film menunjukkan bagaimana segala hal bisa dijadikan bahan tontonan, sekaligus mengajak penonton untuk merenungkan implikasi sosial dari kebiasaan tersebut.
Peran AAAClan, Debut Akting, dan Penghormatan untuk Lula Lahfah
Harusnya Horror menjadi debut akting layar lebar bagi seluruh member AAAClan, termasuk George Tierson (Jot), Yukatheo Glen Widjaja (Yuka), Garry Andriawan Ang (Garry), Teguh Prakoso (Tepe), Aldy Renaldy (Aloy), Ariyanto (Ibot), Niko Junius (Niko), dan Bravyson (Vicong). George Tierson, yang memerankan Kevin, mengatakan Reza memberi ruang kreativitas yang luas sehingga para aktor dapat mengeksplorasi karakter di luar figur kebiasaan mereka.
Selain jajaran AAAClan, film ini menampilkan Reynavenzka, Ronny P. Tjandra, Heroe Soewarno, Malka Rafasya, serta penampilan spesial Yoshua Marcellos (Cellos). Harusnya Horror juga dipandang sebagai penghormatan terakhir untuk almarhumah Lula Lahfah; kehadiran serta dukungan Lula selama proses produksi terasa sangat berarti bagi tim, dan momen tersebut membuat penayangan menjadi pengalaman yang penuh emosi bagi banyak pihak.
Produksi, Sambutan Penonton, dan Jadwal Tayang
Diproduksi oleh Ess Jay Pictures, Harusnya Horror diproduseri oleh Sridhar Jetty, dengan Jimmy L. Lalwani sebagai ko-produser dan David S Suwarto sebagai produser eksekutif. Produser Sridhar Jetty menegaskan bahwa meski bergenre komedi-horor, film ini memiliki relevansi dengan situasi saat ini dan berupaya memberikan refleksi melalui komedi satir.
Proses pengembangan melibatkan acting coach dan memberikan kesempatan bagi para pemeran untuk mendalami karakter. Hal ini menurut pemeran membantu menampilkan sisi baru yang belum pernah terlihat sebelumnya dari para anggota AAAClan.
Respon awal penonton menunjukkan antusiasme kuat: tiket presale ludes terjual di berbagai kota seperti Jakarta, Depok, Bekasi, Bali, Banjarmasin, Batam, Bogor, Jambi, Lampung, Palembang, Pekanbaru, Makassar, Samarinda, dan Pontianak. Harusnya Horror dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 20 Agustus 2026. Para penonton dan penggemar dapat mengikuti informasi resmi film melalui akun Instagram resmi produksi.
Secara keseluruhan, Harusnya Horror diposisikan sebagai karya yang menghibur sekaligus mengundang perenungan: komedi dan horor dipadu untuk menghadirkan cerita tentang persahabatan, kehilangan, dan penghargaan terhadap orang-orang terdekat—sebuah kenangan yang, menurut sutradara dan kru, akan terus melekat.
Baca juga berita lainnya:
