industri pengolahan - ilustrasi berita SBIN Dongkrak Industri Pengolahan Nonmigas Tumbuh 5,32% pada Triwulan II-2026Industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32% triwulan II-2026, melampaui ekonomi nasional. Kemenperin: SBIN percepat penguatan struktur dan hilirisasi.

Industri pengolahan nonmigas mencatat pertumbuhan sebesar 5,32% secara tahunan pada triwulan II-2026, menurut pernyataan Kementerian Perindustrian. Angka ini dinilai melewati laju pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama.

industri pengolahan - ilustrasi berita SBIN Dongkrak Industri Pengolahan Nonmigas Tumbuh 5,32% pada Triwulan II-2026

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa capaian tersebut tersokong oleh implementasi Strategi Besar Industrialisasi Nasional (SBIN), yang difokuskan untuk memperkuat struktur industri sekaligus mempercepat proses hilirisasi produk manufaktur.

Perkembangan pada Triwulan II-2026

Kemenperin melaporkan bahwa kinerja sektor manufaktur nonmigas menunjukkan akselerasi pada triwulan II-2026. Pertumbuhan 5,32% year on year menggambarkan adanya pemulihan dan penguatan aktivitas produksi di sejumlah subsektor industri pengolahan, sehingga memberikan kontribusi yang lebih kuat dibandingkan laju ekonomi secara keseluruhan pada periode tersebut.

Menurut pernyataan resmi kementerian, capaian ini bukan hanya angka tunggal, melainkan indikator bahwa kebijakan dan strategi yang dijalankan mulai memberikan hasil pada struktur industri dan rantai nilai di level hilir.

Peran SBIN dalam Memperkuat Industri Pengolahan

SBIN disebut sebagai instrumen utama yang menjadi motor penggerak bagi kebangkitan industri pengolahan nonmigas. Program ini difokuskan pada penguatan struktur industri—mulai dari peningkatan kapasitas produksi hingga perbaikan rantai pasokan—yang bertujuan memperkokoh fondasi sektor manufaktur nasional.

Dengan strategi yang lebih terarah, Kemenperin menilai sektor manufaktur dapat mengurangi ketergantungan pada proses primer dan bergerak ke hilirisasi yang menghadirkan nilai tambah lebih besar bagi produk dalam negeri.

Penekanan pada Hilirisasi dan Nilai Tambah

Salah satu fokus utama SBIN adalah hilirisasi, yakni proses mengolah bahan baku menjadi produk bernilai tambah yang lebih tinggi. Kementerian menekankan bahwa percepatan hilirisasi berperan penting dalam meningkatkan daya saing industri, membuka peluang usaha baru, dan memperluas penciptaan lapangan kerja tanpa hanya bergantung pada aktivitas ekstraktif.

Dengan memperkuat kemampuan hilirisasi, diharapkan produk-produk manufaktur Indonesia dapat menembus pasar yang lebih luas serta meningkatkan kapasitas substitusi impor melalui produk dalam negeri yang lebih kompetitif.

Respon Pemerintah dan Upaya Lanjutan

Kemenperin menyatakan akan terus mengawal implementasi SBIN agar capaian pertumbuhan ini berkelanjutan. Langkah-langkah yang ditempuh berfokus pada dukungan kebijakan, insentif untuk hilirisasi, serta penguatan kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan pemangku kepentingan terkait.

Menteri Agus menegaskan pentingnya konsistensi pelaksanaan strategi agar momentum pertumbuhan yang tercatat pada triwulan II-2026 bisa berlanjut dan membawa dampak ekonomi yang lebih luas bagi perekonomian nasional.

Implikasi bagi Sektor Manufaktur

Capaian pertumbuhan ini dipandang sebagai sinyal positif bagi sektor manufaktur nonmigas. Perbaikan struktur industri dan dorongan hilirisasi yang menjadi bagian dari SBIN diharapkan dapat meningkatkan produktivitas serta mendorong transformasi industri menuju struktur yang lebih berdaya saing.

Meskipun tantangan masih ada, Kemenperin memandang bahwa kombinasi kebijakan strategis dan implementasi yang terukur akan menjadi kunci bagi penguatan industri pengolahan ke depan.

By rendra.firmansyah

Fokus meliput ekonomi, investasi, dunia usaha, perbankan, pasar keuangan, dan perkembangan UMKM. Memiliki minat besar terhadap transformasi ekonomi digital.