Menpora Erick Thohir menyampaikan bahwa maraton dan kompetisi liga saat ini menjadi penggerak penting dalam mengembangkan ekonomi olahraga. Pernyataan ini disampaikan di Jakarta pada Kamis, 2 Juli 2026, berbarengan dengan hadirnya Kepala Bakom RI, Muhammad Qodari.

Menurut Erick, paradigma lama yang memandang olahraga semata-mata sebagai beban harus bergeser. Ia menekankan bahwa olahraga justru menyimpan peluang pendapatan dan memperkuat citra nasional jika dikelola sebagai ekosistem yang terintegrasi.
Ekonomi olahraga: Maraton dan Liga sebagai Penggerak
Erick mengungkapkan bahwa dua subsektor—lari maraton dan kompetisi liga—telah menunjukkan daya gerak ekonomi yang signifikan. Data yang dipaparkan menyebut ada 104 event lari maraton di Indonesia dengan total partisipasi mencapai 10,4 juta pelari, angka yang menurutnya mencerminkan skala dan potensi ekonomi yang dapat dimonetisasi lebih optimal oleh berbagai pihak.
Perubahan paradigma: dari beban ke peluang
Dalam pemaparannya, Erick menegaskan perlunya pergeseran pola pikir di antara pemangku kepentingan. “Jadi ini paradigma yang kami dari Kemenpora sekarang sedang mencoba menyamakan pola pikir dengan seluruh pemangku kepentingan stakeholders,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa pendekatan baru ini menempatkan olahraga sebagai sumber pendapatan dan alat national branding, bukan sekadar biaya operasional atau tanggungan anggaran.
Data maraton dan implikasi ekonomi
Angka 104 event dan 10,4 juta pelari menjadi contoh konkret yang dipakai untuk menggambarkan dampak ekonomi dari kegiatan olahraga massal. Erick menyoroti bagaimana event berkelanjutan seperti maraton dapat menciptakan rantai nilai ekonomi—mulai dari penyediaan jasa, layanan kesehatan, akomodasi, hingga sponsorship—yang memberi manfaat bagi pelaku usaha lokal maupun nasional.
Prioritas Kemenpora dan penguatan ekosistem 2026
Paparan Erick juga mencakup perkembangan program prioritas Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk tahun 2026. Ia menjelaskan pentingnya penguatan ekosistem olahraga nasional sebagai langkah strategis pasca pertemuan dengan Presiden RI. Upaya penguatan ini dimaksudkan untuk menyamakan pemahaman antar lembaga, perbaikan tata kelola event, dan penciptaan model bisnis yang berkelanjutan.
Penguatan ekosistem, menurut Erick, melibatkan kolaborasi lintas sektor termasuk pemerintah daerah, federasi olahraga, pelaku industri, dan komunitas olahraga. Sinergi tersebut diperlukan agar potensi ekonomi dari maraton dan liga dapat dimaksimalkan tanpa mengabaikan aspek sport development dan kepentingan atlet.
Peran pemangku kepentingan dan national branding
Selain aspek ekonomi, Erick menekankan peran olahraga sebagai alat untuk membangun citra bangsa. Kompetisi yang dikelola profesional dan event massal yang sukses dapat meningkatkan branding nasional sekaligus membuka peluang pendapatan melalui sponsor, hak siar, dan pariwisata olahraga.
Dalam konteks ini, Erick mengajak semua pemangku kepentingan untuk mengubah cara pandang dan berperan aktif dalam menciptakan ekosistem yang mendukung, sehingga olahraga tidak hanya menghasilkan prestasi namun juga kontribusi ekonomi yang nyata bagi negara.
Pemaparan Erick bersama Kepala Bakom RI Muhammad Qodari ini menjadi bagian dari upaya Kemenpora mempertegas arah kebijakan dan langkah implementatif yang akan dijalankan sepanjang 2026 untuk menempatkan olahraga sebagai salah satu pilar ekonomi nasional.
Baca juga berita lainnya:
