Komunitas Mobil Listrik Indonesia (KOLEKSI) menilai adopsi mobil listrik di dalam negeri masih berjalan lambat dan mendesak langkah percepatan dari pemerintah. Fokus dorongan mereka mencakup penguatan insentif serta perluasan jaringan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

Selain itu, KOLEKSI mendorong pemerintah untuk mencontoh kebijakan yang diterapkan di negara lain seperti Norwegia dan Ethiopia sebagai bagian dari upaya mempercepat transisi kendaraan listrik secara lebih komprehensif.
Mengapa adopsi mobil listrik masih tertinggal?
Menurut KOLEKSI, kondisi saat ini menunjukkan bahwa laju adopsi mobil listrik belum memenuhi harapan komunitas dan pelaku industri. Kelompok ini menilai perlu ada percepatan kebijakan yang mampu menjawab hambatan yang membuat adopsi berjalan lambat.
Penilaian tersebut mendorong KOLEKSI untuk mengajukan rekomendasi yang lebih konkret kepada pemerintah agar kebijakan yang sudah ada dapat diperkuat dan diimplementasikan dengan lebih cepat.
Penguatan insentif sebagai langkah prioritas
KOLEKSI menekankan pentingnya memperkuat insentif, baik yang bersifat fiskal maupun nonfiskal, untuk mendorong minat masyarakat dan pelaku usaha menggunakan kendaraan listrik. Insentif diharapkan dapat menurunkan hambatan awal bagi konsumen dan mempercepat pembentukan pasar kendaraan listrik yang lebih solid.
Kelompok ini mengingatkan bahwa insentif tidak hanya soal keringanan biaya pembelian, tetapi juga mencakup kebijakan pendukung yang mempermudah ekosistem kendaraan listrik untuk berkembang.
Perluasan SPKLU sebagai fondasi infrastruktur
Salah satu tuntutan KOLEKSI adalah memperbanyak SPKLU di berbagai wilayah. Menurut komunitas tersebut, ketersediaan stasiun pengisian yang memadai menjadi bagian penting agar pengguna kendaraan listrik merasa lebih nyaman dan aman untuk beralih.
Perluasan jaringan pengisian dianggap perlu dilakukan secara bertahap namun terencana, melibatkan koordinasi antarinstansi dan dukungan dari sektor swasta agar cakupan layanan dapat menjangkau area-area strategis.
Belajar dari kebijakan di Norwegia dan Ethiopia
KOLEKSI menyarankan agar pembuat kebijakan dalam negeri menelaah pengalaman negara lain yang dinilai berhasil mendorong adopsi kendaraan listrik, antara lain Norwegia dan Ethiopia. Rekomendasi ini ditujukan agar kebijakan lokal dapat diadaptasi sesuai konteks nasional.
Kelompok itu menilai studi banding kebijakan dapat membantu merumuskan kombinasi langkah yang tepat, mulai dari regulasi hingga insentif dan pengembangan infrastruktur pendukung.
Sinergi kebijakan dan pelaksanaan lapangan
KOLEKSI menekankan bahwa percepatan adopsi mobil listrik memerlukan sinergi antara kebijakan pusat, implementasi di tingkat daerah, dan keterlibatan pihak swasta. Tanpa koordinasi yang baik, upaya penguatan insentif dan perluasan SPKLU berisiko kurang efektif.
Komunitas tersebut mengajak para pemangku kepentingan untuk membuka dialog yang konstruktif agar rekomendasi kebijakan dapat segera diterjemahkan ke langkah-langkah nyata di lapangan.
Dengan penekanan pada penguatan insentif, perbanyakan SPKLU, dan pembelajaran dari praktik luar negeri, KOLEKSI berharap proses transisi menuju kendaraan listrik dapat dipercepat tanpa mengabaikan aspek teknis dan kelembagaan yang diperlukan.
Baca juga berita lainnya:
