Dirjen Bina Keuangan Daerah Kemendagri, Agus Fatoni, menegaskan PKB dan BBNKB masih menjadi pilar utama Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pernyataan itu disampaikan saat membuka Rapat Koordinasi Nasional, sebagai upaya mengingatkan kembali pentingnya dua sektor pajak kendaraan tersebut bagi stabilitas keuangan daerah.

Menurut Fatoni, optimalisasi penerimaan dari PKB dan BBNKB harus menjadi prioritas pemerintah daerah. Upaya itu tidak hanya bergantung pada penarikan pajak semata, tetapi juga memerlukan penguatan tata kelola, inovasi layanan publik, serta peningkatan kepatuhan wajib pajak.
Peran PKB dan BBNKB bagi PAD
PKB dan BBNKB berkontribusi signifikan terhadap struktur pendapatan daerah sehingga disebut sebagai tulang punggung PAD. Kontribusi ini menjadikan penerimaan dari sektor kendaraan bermotor sebagai salah satu sumber yang strategis untuk pembiayaan pelayanan publik di tingkat daerah.
Dengan peran strategis tersebut, pemerintah pusat dan daerah perlu memastikan pemungutan dan pengelolaan kedua jenis penerimaan ini berjalan efektif dan akuntabel. Pengelolaan yang baik diharapkan dapat meningkatkan kepastian penerimaan sekaligus memperkuat kemampuan daerah dalam menyediakan layanan kepada masyarakat.
Upaya yang Didorong kepada Pemerintah Daerah
Fatoni mendorong pemerintah daerah untuk melakukan langkah-langkah yang bersifat memperkuat tata kelola dan pelayanan. Penguatan tata kelola mencakup perbaikan prosedur administrasi, transparansi penggunaan dana, dan sistem pelaporan yang lebih rapi sehingga potensi penerimaan dapat termonitor dengan baik.
Baca juga: Tc Di Surakarta: Timnas U-17 Gelar Pemusatan Latihan di Surakarta Jelang Piala Kemerdekaan 2026
Sementara itu, inovasi layanan dimaksudkan untuk mempermudah wajib pajak dalam memenuhi kewajiban, misalnya melalui digitalisasi layanan atau perbaikan mekanisme pelayanan di kantor-kantor terkait. Inovasi semacam ini diharapkan dapat menurunkan hambatan kepatuhan dan meningkatkan tingkat pembayaran tepat waktu.
Tingkatkan Kepatuhan Wajib Pajak
Salah satu poin penting yang disoroti adalah peningkatan kepatuhan wajib pajak. Kepatuhan ini berperan langsung terhadap realisasi penerimaan. Oleh sebab itu, pendekatan yang seimbang antara layanan yang memudahkan dan penegakan aturan yang konsisten perlu diterapkan agar kepatuhan dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Peningkatan kepatuhan juga dapat dicapai melalui kampanye informasi, sosialisasi aturan, serta mekanisme pelayanan yang lebih ramah pengguna. Pendekatan yang komunikatif sekaligus tegas terhadap ketidakpatuhan akan membantu menciptakan iklim yang kondusif bagi peningkatan penerimaan daerah.
Tantangan Pelaksanaan dan Harapan dari Rakornas
Dalam pelaksanaannya, optimalisasi PKB dan BBNKB menghadapi beragam tantangan, termasuk keterbatasan kapasitas administrasi di beberapa daerah dan kebutuhan akan pembaruan sistem layanan. Rakornas menjadi salah satu forum penting untuk menyamakan persepsi, berbagi praktik baik, serta merumuskan langkah-langkah yang dapat diterapkan oleh daerah.
Fatoni berharap rakornas yang membuka ruang koordinasi tersebut bisa mendorong komitmen bersama antara pemerintah pusat dan daerah. Dengan sinergi yang lebih kuat, penguatan tata kelola, layanan, dan kepatuhan diharapkan mampu meningkatkan realisasi penerimaan tanpa mengorbankan keadilan dan akses layanan bagi masyarakat.
Penekanan pada PKB dan BBNKB sebagai tulang punggung PAD sekaligus imbauan untuk memaksimalkan realisasi penerimaan menunjukkan fokus pemerintah pada stabilitas fiskal daerah. Langkah-langkah yang diarahkan pada efisiensi pengelolaan dan peningkatan kepatuhan diharapkan memberi dampak positif bagi pembiayaan layanan publik di tingkat lokal.
Baca juga berita lainnya:
