Kekurangan DHA menjadi perhatian utama bagi tumbuh kembang anak di Indonesia. Data menunjukkan bahwa sekitar 8 dari 10 anak usia 4–12 tahun di Indonesia memiliki asupan EPA dan DHA yang tidak memadai, padahal kedua asam lemak ini berperan penting untuk perkembangan dan fungsi sistem saraf, termasuk otak.

Dalam konteks masuk usia sekolah, kebutuhan nutrisi anak berubah seiring dengan tuntutan aktivitas belajar dan adaptasi sosial. Oleh karena itu, konsumsi makanan bergizi — termasuk asupan yang mengandung DHA — tetap menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan dan perkembangan kognitif anak.
Kekurangan DHA di Kalangan Anak 4–12 Tahun
Angka yang menunjukkan 8 dari 10 anak memiliki asupan EPA dan DHA yang kurang memberikan gambaran bahwa masalah ini bersifat luas dan memengaruhi banyak keluarga. Kekurangan pada usia 4–12 tahun berisiko berdampak pada aspek fungsi saraf yang berhubungan dengan perhatian, memori, dan keterampilan belajar, karena masa ini merupakan periode penting perkembangan otak dan sistem saraf.
Peranan EPA dan DHA untuk Sistem Saraf
EPA dan DHA adalah bagian dari asam lemak yang berperan dalam struktur dan fungsi sel saraf. Pada masa sekolah, fungsi sistem saraf yang optimal mendukung kemampuan anak untuk berkonsentrasi, memproses informasi, dan berinteraksi dalam lingkungan belajar. Oleh sebab itu, tercukupinya kebutuhan asam lemak esensial ini menjadi unsur yang tidak boleh diabaikan dalam pola makan anak.
Susu dan Peranannya saat Memasuki Usia Sekolah
Minum susu tetap dibutuhkan saat anak memasuki usia sekolah karena susu merupakan salah satu opsi yang sering disarankan untuk melengkapi kebutuhan nutrisi anak. Dalam situasi di mana asupan nutrisi tertentu kurang terpenuhi dari makanan sehari-hari, susu dapat menjadi bagian dari upaya memastikan anak mendapatkan beberapa zat gizi penting yang mendukung pertumbuhan fisik dan fungsi saraf.
Implikasi bagi Orang Tua dan Sekolah
Kondisi kekurangan DHA pada sebagian besar anak menuntut perhatian dari orang tua, pihak sekolah, dan tenaga kesehatan. Pemantauan asupan gizi anak, termasuk memastikan pola makan bervariasi dan mendapat dukungan nutrisi yang diperlukan, menjadi langkah awal yang penting. Sekolah juga memiliki peran untuk menciptakan lingkungan yang mendukung ketersediaan makanan sehat bagi anak selama jam sekolah.
Langkah Praktis yang Dapat Dipertimbangkan
Menghadapi temuan bahwa banyak anak mengalami asupan EPA dan DHA yang kurang, langkah yang bersifat praktis dan dapat dilakukan keluarga antara lain mengevaluasi pola makan harian anak, memastikan adanya variasi sumber gizi, serta mempertimbangkan pemberian susu sebagai bagian dari asupan harian bila sesuai dengan kebutuhan dan kondisi anak. Keputusan terkait perubahan pola makan atau suplemen sebaiknya dilakukan dengan pertimbangan medis atau saran tenaga kesehatan.
Perhatian terhadap kecukupan DHA pada anak bukan hanya soal angka, tetapi berkaitan langsung dengan kualitas proses belajar dan perkembangan jangka panjang. Memperhatikan asupan gizi sejak usia dini dan saat memasuki sekolah menjadi investasi penting bagi kemampuan kognitif anak di masa depan.
Pemeriksaan dan diskusi dengan tenaga kesehatan dapat membantu keluarga menilai kebutuhan spesifik anak dan menentukan langkah yang paling tepat. Dengan pemahaman dan tindakan yang tepat, diharapkan anak-anak dapat memenuhi kebutuhan nutrisi penting mereka sehingga mendukung perkembangan optimal selama masa sekolah.
Baca juga berita lainnya:
